Kamis, 16 Juni 2011

Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Tugas pengawas satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi manajerial kepala sekolah, namun juga membina guru melalui supervisi akademik. Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru, terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih strategi pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif.

Menghadapi tugas tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/ metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan pengawas sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tanpa didukung teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan respek dari para guru yang dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang pendidikan dasar pengawas harus memahami garis besar strategi pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika, IPA, IPS, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Materi pelatihan ini dimaksudkan memberikan wawasan bagi pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi akademik di SD/MI.


2. RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana konsep dan prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori ?
b. Bagaimana prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori?
c. Apa saja keunggulan dan kelemahan dari Strategi Ekspositori?



3. TUJUAN

a. Memberikan penjelasan mengenai konsep dan prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori dalam pembelajaran
b. Menguraikan tahapan penggunaan prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori dalam kegiatan pembelajaran
c. Menguraikan keunggulan dan kelemahan dari Strategi Ekspositori yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.


















B. PEMBAHASAN


STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI (SPE)

Aliran psikologi belajar yang sangat mempengaruhi SPE adalah aliran belajar behavioristik. Seperti yang telah dijelaskan dimuka, aliran belajar behavioristik lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antar stimulus dan respons, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat penting. Dari asumsi semacam inilah, muncul berbagai konsep bagaimana agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respons itu bisa berlangsung secara efektif. Dalam teori belajar koneksionisme contohnya, dikembangkan hukum-hukum belajar seperti hukum kesiapan, hukum pengaruh, dan hukum latihan; sedangkan dalam teori belajar classical conditioning dijelaskan bagaimana hubungan keterkaitan stimulus-respon bisa dipengaruhi oleh munculnya S2 sebagai stimulus prasyarat.


1. Konsep dan Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori

a. Konsep Strategi Pembalajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi pelajaran secara optimal. Strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan istilah “calk and talk”

Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori:

1) Strategi ekpositori dilakukan dengan cara menyampaiakan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.
2) Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep terentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
3) Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.

SPE merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru, dominan sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademik siswa. Metode pembelajaran dengan kuliah merupakan bentuk strategi ekspositori.

SPE akan efektif manakala:
a) Guru akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa. Biasanya bahan atau materi baru itu diperlukan untuk kegiatan-kegiatan khusus.
b) Apabila guru menginginkan agar siswa mempunyai gaya model intelektual tertentu.
c) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan cocok untuk diprsentasikan.
d) Jika ingin membangkitkan keingintahuan siswa tentang topik tertentu.
e) Guru menginginkan untuk mendemonstrasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
f) Apabila seluruh siswa memiliki tingkat kesulitan yang sama sehingga guru perlu menjelaskan untuk seluruh siswa.
g) Apabila guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memilliki kemampuan rendah. Strategi ini sangat efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan untk anak-anak yang memiliki kemampuan yang kurang.
h) Jika lingkungan yang tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa.
i) Jika guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Dari beberapa poin diatas sudah ada sebagian yang diterapkan oleh beberapa guru yang mengajar di SDN Negeri Agung Kecamatan Buay Sandang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

b. Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori

Dalam penggunaan strategi pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru:

1) Berorientasi pada Tujuan
Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam strategi pembelajaran ekspositori melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Seperti kriteria pada umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang yang dapat diukur atau berorientasi pada kompetensi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dipahami, karena tujuan yang spesifik memungkinkan kita bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran.
2) Prinsip Komunikasi
Dalam proses komunikasi bagaimanapun proses sederhananya, selalu terjadi urutan pemindahan pesan dari sumber pesan ke penerima pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif manakala pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh, dan sebaliknya. Sistem komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala penerima pesan tidak dapat menangkat setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan itu dapat terjadi oleh berbagai gangguan yang dapat menghambat kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan tersebut memungkinkan penerima pesan tidak memahami atau tidak dapat menerima sama sekali pesan yang ingin disampaikan.sebagai suatu strategi pembelanjaran yang menekankan sebagai pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi merupakan prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan.

3) Prinsip Kesiapan
Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hukum belajar. Inti dari hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merespon dengan cepat dari setiap stimulus manakala dalam dirinya sudsa memiliki kesiapan: sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespons setiap stimulus yang muncul manakala dalam dirinya belum memiliki kesiapan. Yang dapat kita tarik dari hukum belajar ini adalah, agar siswa dapat menerima informasi stuimulus yang kita berikan, terlebih dahulu kita harus memosisikan mereka dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran.

Oleh karena itu, sebelum kita menyampaikan informasi terlebih dahulu kita yakinkan apakah dalam otak anak sudah tersedia file yang sesuai dengan jenis informasi yang akan disampaikan atau belum, kalau seandainya belum maka terlebih dahulu harus kita sediakan dahulu fili yang akan menampung setiap informasi yang akan kita sampaikan.

4) Prinsip Berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. Ekspositori yang berhasil adalah manakala melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan, sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.


2. Prosedur Pelaksanaan Strategi Ekspositori

Sebelum diuraikan tahapan penggunaan strategi ekspositori terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ini.

a. Rumuskan Tujuan yang Ingin Dicapai
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan strategi ini.

Sering terjadi, proses pembelajaran dengan cara bertutur, guru terlena dengan pembahasan yang dilakukannya, sehingga materi pelajaran menjadi lebar, tidak fokus pada permasalahan yang sedang dibahas. Dengan rumusan tujuan yang jelas, hal ini tidak akan terjadi. Sebab, tujuan yang harus dicapai akan menjadi faktor pengingat bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

b. Kuasai Materi Pelajaran dengan Baik
Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi ekspositori. Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan mudah mengelola kelas; ia akan bergeraqk berani menatap siswa, tidak takut denga perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran, begitupun sebaliknya.

Agar guru dapat menguasai materi pelajaran ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1) Pelajari sumber-sumber belajar yang mutakhir.
2) Persiapkan masalah-masalah yang mungkin muncul dengan cara menganalisis materi pelajaran sampai detailnya.
3) Buatlah garis besar materi pelajaran yang akan disampaikan untuk memandu dalam penyajian agar tidak melebar.

c. Kenali Medan dan Berbagai Hal yang Dapat Memengaruhi Proses Penyampaian
Mengenali lapangan atau medan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan ang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran. Beberpa hal yang berhubungan dengan medan yang harus dikenali diantaranya:
1) Latar belakang audiens atau siswa yang akan menerima materi.
2) Kondisi ruangan, baik menyangkut luas dan besarnya ruangan, pencahayaan, posisi tempat duduk, maupun kelengkapan ruangan itu sendiri.

Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:
a) Persiapan ( preparation )
b) Penyajian ( presentation )
c) Menghubungkan ( correlation )
d) Menyimpulkan ( generalization )
e) Penerapan ( aplication )

a) Persiapan ( preparation )
Tahap persiapan berkaiatan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekpositori sangat tergangtung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah:
1) Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
2) Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
3) Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
4) Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan diantaranya adalah:
a) Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif
Memberikan sugesti yang positif akan dapat membangkitkan kekuatan pada siswa untuk menembus rintangan dalam belajar. Sebaliknya, sugesti yang negatif dapat mematikan semangat belajar.

b) Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai
Mengemukakan tujuan sangat penting artinya dalam setiap proses pembelajaran. Dengan mengemukakan tujuan siswa akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa kemana mereka.dengan demikian, tujuan merupakan “pengikat” baik bagi guru maupun siswa.

c) Bukalah file dalam otak siswa
Bagaikan kerja sebuah komputer, data akan dapat disimpan manakala sudah tersedia filenya. Demikian juga otak siswa, materi pelajaran akan bisa ditangkap dan disimpan dalam memori manakala sudah tersedia file yang sesuai. Artinya, sebelum kita menyampaikan materi pelajaran terlebih dahulu kita harus membuka file dalam otak siswa agar materi itu bisa cepat ditangkap.

b) Penyajian (presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini.

1) Penggunaan bahasa
Penggunaan bahasa merupakan aspek yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan presentasi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa, yaitu:
a) Bahasa yang digunakan sebaiknya bahsa yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami.
b) Dalam penggunaan bahasa guru memerhatikan tingkat perkembangan audiens atau siswa.

2) Intonasi suara
Intonasi suara adalah pengaturan suara sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Guru yang baik akan memahami kapan ia harus meninggikan dan melemahkan suaranya.

3) Menjaga kontak mata dengan siswa
Dalam proses penyajian materi pelajaran, kontak mata merupakan hal yang sangat penting untuk membuat siswa tetap memerhatikan pelajaran. Oleh sebab itu, guru sebaiknya secara terus-menerus menjaga dan memeliharanya. Pandanglah siswa secara bergiliran, jangan biarkan pandangan mereka tertuju pada hal-hal diluar materi pelajaran.

4) Menggunakan joke-joke ang menyegarkan
Menggunakan joke adalah kemampuan guru untuk menjaga agar kelas tetap dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan joke adalah:
1) Joke yang digunakan harus relevan dengan isi materi yang sedang dibahas.
2) Sebaiknya joke muncul tidak terlalu sering.

c) Menghubungkan (correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.

d) Menyimpulkan (generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1) Mengulang kembali inti materi yang menjadi pokok persoalan.
2) Memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
3) Pemetaan keterkaitan antarmateri pokok-pokok materi.

e) Mengaplikasikan (aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya adalah:
1) Membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
2) Memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.

Dari beberapa uraian yang telah dijelaskan berikut adalah untuk dipahami setiap guru yang akan menggunakan strategi ekspositori ini, dari beberapa guru yang mengajar di SDN Negeri Agung Kecamatan Buay Sandang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan telah ada yang menerpakan uraian tersebut namun belum sepenuhnya berjalan dengan lancar karena keterbatasan ilmu dari guru itu sendiri dan keterbatasan siswa untuk menerima pelajaran.


3. Keunggulan dan Kelemahan SE
a. Keunggulan
1) Dengan SPE guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
2) SPE dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
3) Melalui SPE selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligussiswa bisa melihat atau mengobservasi.
4) SPE bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

b. Kelemahan
1) SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2) SPE tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3) Karena SPE lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mngembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
4) Keberhasilan SPE sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.
5) Oleh karena gaya komunikasi SPE lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.








PENUTUP

A. KESIMPULAN

Aliran psikologi belajar yang sangat mempengaruhi SPE adalah aliran belajar behavioristik. Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori:
1. Strategi ekpositori dilakukan dengan cara menyampaiakan materi pelajaran secara verbal.
2. Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi.
3. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri.

Prinsip-prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori yaitu berorientasi pada tujuan, prinsip komunikasi, prinsip kesiapan, prinsip berkelanjutan. Adapun prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori adalah rumuskan tujuan yang ingin dicapai, kuasai materi pelajaran dengan baik, kenali medan dan berbagai hal yang dapat mempengaruhi proses penyampaian.

Terdapat juga keunggulan dan kelemahan pada Strategi Pembelajaran Ekspositori, yaitu:
a. Keunggulan
1) Dengan SPE guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
2) SPE dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
3) Melalui SPE selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligussiswa bisa melihat atau mengobservasi.
4) SPE bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

b) Kelemahan
1) SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2) SPE tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3) Karena SPE lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mngembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
4) Keberhasilan SPE sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru.
5) Oleh karena gaya komunikasi SPE lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.

















B. SARAN
Dengan adanya Strategi Pembelajaran Ekspositori diharapkan guru dapat menerapkan strategi ini dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai semaksimal mungkin. Dibalik itu juga seorang guru harus menguasai/ memahami tentang konsep dan prinsip penggunaan strategi pembelajaran ekspositori itu sendiri agar penerapan dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Selain itu juga seoarang guru harus memahami keunggulan dan kelemahan dari strategi pembelajaran ekspositori itu, dengan memahami maka guru dapat menerapkan dari keunggulan itu dan dapat menghindari dari kelemahan yang ada dan jika bisa dapat mencari jalan keluar agar kelemahan itu dapat teratasi.















DAFTAR PUSTAKA

Barrowrs, H. S dan Tamblyn R. M. 1980. Problem Based Learning:An Aprproach to Medical Education. New York: Springer Publishing.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nasution, S. 1989. Kurikulum dan Pengajaran. Bandung: Bina Aksara.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.

Sanjaya, Wina. 2005. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sukwiaty, dkk. 2006. Ekonomi. Jakarta. PT Ghalia Indonesia Printing.

0 komentar:

Poskan Komentar